Honor Bikin Geger, Pamer HP Mirip iPhone 17 Tepat di Depan Apple Store

Teknologi5 Views

Honor Bikin Geger, Pamer HP Mirip iPhone 17 Tepat di Depan Apple Store Honor kembali memancing perhatian publik teknologi global lewat aksi pemasaran yang terbilang berani. Bukan hanya karena produk barunya disebut mirip iPhone 17 Pro, tetapi juga karena promosi itu dilakukan tepat di depan Apple Store di Tsim Sha Tsui, Hong Kong. Sebuah van promosi untuk Honor 600 series diparkir mencolok di dekat gerai Apple, lengkap dengan slogan yang bermain kata pada frasa “orange to orange” dan “It’s our HONOR.” Langkah ini langsung viral, memicu perdebatan soal keberanian pemasaran, etika promosi, dan tudingan bahwa Honor sengaja menumpang pada sorotan desain Apple.

Yang membuat aksi ini cepat meledak bukan hanya lokasi promonya, melainkan juga sosok ponsel yang dibawa. Sejumlah media teknologi sebelumnya memang sudah menyoroti kemiripan Honor 600 Pro dengan iPhone 17 Pro, terutama pada modul kamera belakang, bahasa desain keseluruhan, dan bahkan warna oranye yang dianggap dekat dengan tampilan iPhone 17 Pro varian Cosmic Orange. Ketika perangkat dengan kemiripan visual seperti itu kemudian dipamerkan di depan toko resmi Apple, efeknya bukan lagi sekadar promosi produk, melainkan sindiran terbuka yang sulit diabaikan.

Bagi Honor, aksi ini jelas bukan kebetulan. Ini tampak seperti strategi yang sangat sadar arah, yakni memancing perbandingan langsung antara ponselnya dan calon flagship Apple, lalu membiarkan internet melakukan sisanya. Bagi Apple dan para penggemarnya, ini tentu bisa dibaca sebagai langkah nyeleneh, bahkan provokatif. Tetapi di dunia pemasaran teknologi yang makin padat, aksi seperti ini justru menunjukkan bahwa persaingan tidak lagi hanya terjadi di atas meja spesifikasi, melainkan juga di ruang simbol, persepsi, dan keberanian memainkan perhatian publik.

Van promosi di depan Apple Store langsung mengubah peluncuran jadi tontonan

Peristiwa ini bermula ketika video sebuah van promosi Honor 600 series yang diparkir di luar Apple Store Hong Kong menyebar di Threads. Marketing-Interactive melaporkan bahwa van tersebut dipasang mencolok di depan gerai Apple di Tsim Sha Tsui pada 17 April 2026. Dalam waktu singkat, video itu mengumpulkan ratusan ribu tayangan, ribuan suka, dan ribuan komentar. Banyak pengguna melihat langkah ini sebagai bentuk provokasi yang disengaja, bukan sekadar penempatan iklan biasa.

Pilihan lokasi ini penting karena Apple Store bukan ruang netral. Gerai Apple selalu punya nilai simbolik yang kuat, baik sebagai etalase produk, lambang status merek, maupun titik temu komunitas pengguna Apple. Ketika Honor menaruh materi promosinya di ruang visual yang sangat dekat dengan simbol Apple, pesan yang dikirim menjadi jauh lebih tajam. Honor seolah tidak ingin produknya sekadar diperkenalkan, tetapi dipaksa masuk ke jalur perbandingan langsung dengan iPhone.

Slogan “orange to orange” juga bukan permainan kata yang polos. MacRumors membaca kalimat itu sebagai plesetan dari “apples to apples,” idiom bahasa Inggris yang biasa dipakai untuk menyebut perbandingan yang setara. Dengan mengganti “apples” menjadi “orange,” Honor seperti ingin mengatakan bahwa produknya pantas dibandingkan secara sejajar dengan iPhone, bahkan ketika pembandingnya adalah merek sebesar Apple. Ini membuat promosi tersebut terasa lebih seperti tantangan ketimbang pengumuman biasa.

Kenapa Honor 600 Pro disebut mirip iPhone 17 Pro

Kemiripan Honor 600 Pro dengan iPhone 17 Pro bukan isu yang baru muncul setelah van itu viral. Beberapa pekan sebelumnya, render dan bocoran desain Honor 600 serta 600 Pro sudah lebih dulu memancing perhatian. PhoneArena menulis bahwa Honor 600 Pro terlihat seperti doppelgänger dari iPhone 17 Pro, terutama karena modul tiga kameranya, tonjolan area kamera di bagian atas belakang, dan detail desain samping yang membuatnya terasa sangat dekat dengan bahasa desain Apple.

Perdebatan itu makin menguat ketika warna oranye dipilih sebagai salah satu identitas visual utama seri ini. MacRumors menyoroti bahwa warna perangkat Honor dalam materi promosi memiliki kemiripan yang jelas dengan Cosmic Orange milik iPhone 17 Pro. Jadi, kemiripan yang dibicarakan publik bukan hanya soal modul kamera, tetapi juga suasana visual keseluruhan. Dalam pemasaran ponsel, warna punya peran penting karena sering menjadi pembeda emosional. Saat warna, bentuk kamera, dan garis desain bertemu dalam satu arah yang sangat dekat, tudingan meniru jadi sulit dihindari.

Namun di sisi lain, Honor tampaknya tidak lagi berusaha menepis kesan itu sepenuhnya. Aksi memarkir van di depan Apple Store justru memberi sinyal bahwa kemiripan desain tersebut mungkin dipandang sebagai bagian dari strategi, bukan kecelakaan desain. Dalam bahasa sederhana, Honor tampak tahu betul apa yang sedang dibicarakan orang, lalu memutuskan untuk memperkeras percakapan itu daripada memadamkannya.

Di balik desain yang diperdebatkan, spesifikasi Honor 600 tetap dibuat serius

Yang membuat aksi Honor ini tidak berhenti sebagai bahan olok olok adalah fakta bahwa Honor 600 series bukan perangkat kosong. Gadgets360 melaporkan bahwa Honor 600 Pro akan ditenagai chipset Snapdragon 8 Elite, sementara model regulernya memakai Snapdragon 7 Gen 4. Keduanya juga dibekali baterai 7.000 mAh, dukungan 80W wired fast charging, dan untuk varian Pro tersedia pula 50W wireless charging. Angka ini langsung menempatkan seri tersebut dalam posisi yang menarik karena menawarkan spesifikasi yang sangat kompetitif.

Honor juga membekali seri ini dengan kamera utama 200 megapiksel. Pada varian Pro, sistem kameranya terdiri dari kamera utama 200 MP, telefoto periskop 50 MP dengan zoom optik 3,5x, serta ultrawide 12 MP. Keduanya juga memakai kamera depan 50 MP. Dengan komposisi seperti ini, Honor jelas ingin menunjukkan bahwa mereka tidak cuma meniru tampilan premium, tetapi juga menawarkan isi yang sanggup masuk ke perdebatan kelas atas.

Detail lain yang cukup menonjol adalah klaim rating IP68, IP69, dan IP69K, bezel tipis 0,98 mm, frame metal matte, serta bodi setebal 7,8 mm. Dalam pasar smartphone yang makin sulit mencari pembeda, spesifikasi seperti ini membuat Honor 600 Pro tidak bisa dianggap hanya hidup dari sensasi desain mirip iPhone. Justru kombinasi antara visual yang familiar dan spesifikasi besar inilah yang membuat langkah promosinya terasa lebih berbahaya bagi rival.

Aksi ini terasa nyeleneh karena menyentuh batas etika promosi

Di titik inilah diskusi mulai bergeser ke soal etika. Marketing-Interactive mencatat bahwa sebagian warganet menilai tindakan Honor sebagai provokasi yang terlalu jauh, bahkan mempertanyakan kepantasan menempatkan materi promosi tepat di samping toko rival. Sebagian lagi melihatnya sebagai bentuk guerrilla marketing yang cerdas, karena berhasil meraih perhatian tanpa harus membeli kampanye besar dengan format konvensional.

Dalam dunia periklanan, langkah menyenggol kompetitor sebenarnya bukan hal baru. Banyak merek pernah melakukannya, terutama di industri minuman ringan, otomotif, dan teknologi. Namun aksi Honor terasa lebih berisik karena dilakukan di lokasi fisik yang sangat simbolis dan melibatkan produk yang sudah lebih dulu dicurigai mengadopsi rupa perangkat Apple. Jadi, yang dibicarakan publik bukan sekadar keberanian menyindir pesaing, melainkan keberanian menyindir sambil membawa desain yang dianggap terlalu dekat.

Itulah yang membuat aksi ini terasa nyeleneh. Kalau Honor menaruh van promosi di ruang biasa, percakapannya mungkin akan lebih pendek. Tetapi begitu Apple Store dijadikan latar, promosi ini berubah jadi panggung. Orang bukan hanya melihat ponsel baru, mereka melihat duel simbolik dua merek dengan bahasa visual yang saling mengunci.

Honor seperti sengaja memilih jalan paling berisik untuk memperkenalkan produk

Ada banyak cara untuk memperkenalkan ponsel baru. Perusahaan bisa mengandalkan teaser resmi, video sinematik, poster media sosial, ulasan awal, atau bocoran spesifikasi. Honor jelas memilih jalur yang jauh lebih gaduh. Dengan membawa seri 600 ke depan Apple Store, mereka menabrakkan produk baru langsung ke salah satu ikon terkuat di industri smartphone. Ini strategi yang penuh risiko, tetapi juga berpotensi sangat efektif.

Efektivitas itu terlihat dari kecepatan isu ini menyebar. Dalam hitungan jam, percakapan mengenai Honor 600 Pro tidak lagi terbatas pada spesifikasi atau tanggal peluncuran. Orang membahas desainnya, warna bodinya, keberanian pemasarannya, dan tentu saja hubungannya dengan iPhone 17 Pro. Bagi sebuah merek, perhatian sebesar itu sangat mahal. Bahkan kritik keras pun tetap berarti satu hal, produk berhasil masuk ke pusat percakapan.

Dari sudut pandang bisnis, langkah seperti ini bisa dibaca sebagai usaha mempercepat posisi seri 600 dalam benak konsumen. Di pasar yang dibanjiri ratusan model Android, sekadar punya spesifikasi bagus tidak cukup. Produk harus punya cerita. Honor tampaknya sadar bahwa cerita yang paling cepat bekerja adalah cerita persaingan. Saat orang melihat Honor 600 Pro, mereka langsung membandingkannya dengan iPhone 17 Pro. Buat Honor, itu mungkin justru tujuan utamanya.

Ponsel mirip iPhone bukan hal baru, tetapi aksi ini membuatnya berbeda

Industri smartphone sudah lama hidup dengan tudingan saling meniru. Modul kamera, bentuk bingkai, posisi tombol, sampai warna bodi sering saling memengaruhi. Banyak ponsel Android pernah disebut terlalu dekat dengan iPhone, dan sebaliknya Apple juga kerap mengambil inspirasi tren yang lebih dulu muncul di kubu Android. Namun yang membedakan kasus Honor kali ini adalah skala keberanian dalam mengakui situasi tersebut di ruang publik.

Alih alih menjauh dari tudingan kemiripan, Honor seperti justru berjalan mendekatinya. Mereka tidak membangun jarak aman dari Apple, malah mendekat ke salah satu titik paling ikonik milik Apple. Dengan begitu, perdebatan tentang mirip atau tidak lagi bukan sesuatu yang harus dijawab lewat klarifikasi. Perdebatan itu dibiarkan hidup dan justru dipakai sebagai bahan bakar promosi.

Pendekatan seperti ini mungkin membuat sebagian orang menganggap Honor kurang kreatif. Tetapi di sisi lain, ada juga yang membaca langkah itu sebagai tanda percaya diri. Seolah Honor ingin berkata bahwa desain yang mengingatkan orang pada iPhone tidak otomatis menjadi kelemahan, selama produk yang dibawa punya baterai lebih besar, kamera tinggi, pengisian daya cepat, dan harga yang kemungkinan lebih agresif.

Bagi Apple, sindiran ini mungkin tidak terlalu menyakitkan, tetapi tetap mengganggu

MacRumors menilai Apple kecil kemungkinan akan menanggapi aksi itu secara terbuka karena respons resmi justru bisa memperbesar gaung promosi Honor. Penilaian ini masuk akal. Apple selama ini cenderung jarang masuk ke arena balas sindir terbuka untuk urusan promosi kompetitor. Posisi mereknya terlalu besar untuk ikut bermain di wilayah seperti itu. Namun bukan berarti aksi ini tidak mengganggu.

Gangguannya ada di level simbolik. Honor memanfaatkan salah satu aset terkuat Apple, yakni aura toko ritelnya, sebagai latar untuk menempelkan pesan perbandingan. Dalam pemasaran, ini seperti mengambil panggung lawan lalu mengucapkan kalimat tantangan tepat di hadapannya. Apple mungkin tidak perlu menjawab, tetapi publik sudah telanjur melihat dan membicarakannya. Dan dalam perang perhatian, itu sudah cukup bernilai bagi Honor.

Bagi pengguna Apple yang sangat loyal, aksi itu kemungkinan akan dibaca sebagai bentuk mencari panggung. Tetapi bagi sebagian konsumen netral, peristiwa ini bisa justru memunculkan rasa penasaran baru. Orang mulai bertanya, kalau Honor berani segitunya, apakah seri 600 memang sekuat itu. Di pasar smartphone, rasa penasaran sering menjadi langkah pertama menuju pertimbangan beli.

Honor berhasil membuat peluncuran produk terasa seperti duel terbuka

Pada akhirnya, yang paling penting dari aksi ini bukan apakah semua orang setuju dengan cara Honor, melainkan bahwa Honor berhasil mengubah peluncuran ponsel menjadi duel terbuka yang mudah dipahami publik. Orang tidak perlu membaca spesifikasi panjang untuk mengerti pesannya. Ada ponsel baru yang tampil mirip iPhone 17 Pro, lalu dipamerkan tepat di depan Apple Store. Cerita sesederhana itu sangat kuat untuk menyebar.

Tentu saja, perhatian besar tidak otomatis berarti kemenangan. Setelah sorotan promosi mereda, Honor tetap harus membuktikan bahwa seri 600 memang layak dibicarakan dari sisi pengalaman pakai, kualitas kamera, performa chipset, daya tahan baterai, dan nilai jual keseluruhan. Tetapi untuk urusan membuat dunia menoleh, Honor sudah berhasil. Mereka masuk ke percakapan global dengan cara yang tidak sopan menurut sebagian orang, tetapi sulit diabaikan oleh siapa pun.

Kalau ada satu pelajaran dari kejadian ini, mungkin begini. Di pasar smartphone 2026, spesifikasi tinggi saja tidak selalu cukup untuk membuat orang peduli. Merek harus berani menciptakan momen. Honor memilih momen yang nyeleneh, berisiko, dan terang terangan memancing perbandingan dengan Apple. Entah dianggap cerdas atau kelewatan, aksi itu sudah mencapai tujuan paling awal dalam pemasaran teknologi, membuat semua orang berhenti sejenak dan melihat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *