Dilan 1990, Kisah Cinta Bandung yang Mengubah Wajah Film Remaja Indonesia

Drama6 Views

Dilan 1990 menjadi salah satu film Indonesia yang paling ramai dibicarakan ketika hadir di bioskop pada Januari 2018. Film yang mempertemukan Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan sebagai Dilan dan Vanesha Prescilla sebagai Milea ini menawarkan kisah percintaan remaja dengan latar Bandung pada 1990. Ceritanya sederhana, tetapi cara kedua tokoh utama berkenalan, bercakap, hingga perlahan saling menyukai membuat film tersebut memiliki identitas yang kuat.

Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Pidi Baiq. Fajar Bustomi dan Pidi Baiq tercatat sebagai sutradara, sedangkan penulisan skenario melibatkan Pidi Baiq dan Titien Wattimena. Dilan 1990 mulai diputar secara nasional pada 25 Januari 2018 setelah menggelar pemutaran perdana pada 16 Januari 2018. Sejak hari pertama, sambutan penonton sudah terlihat besar. ANTARA mencatat sebanyak 225 ribu orang menyaksikannya pada hari pertama pemutaran.

Pertemuan Dilan dan Milea yang Dimulai dengan Cara Tidak Biasa

Cerita berpusat pada Milea, seorang siswi yang pindah dari Jakarta ke Bandung. Kehidupan sekolah barunya mulai berubah ketika ia berkenalan dengan Dilan, siswa yang memiliki reputasi cukup mencolok di sekolah. Dilan dikenal cerdas, percaya diri, sering bertindak di luar kebiasaan, dan menjadi bagian dari kelompok sepeda motor.

Pertemuan mereka berlangsung ketika Milea sedang menuju sekolah. Alih alih memperkenalkan diri seperti siswa lain, Dilan menggunakan cara yang tidak terduga untuk menarik perhatian Milea. Ia menyampaikan sebuah ramalan sederhana bahwa mereka akan bertemu lagi di sekolah.

Milea pada awalnya tidak terlalu menanggapi ucapan tersebut. Namun Dilan tidak berhenti. Ia terus mencari cara agar Milea mengingat keberadaannya, mulai dari mengirim surat hingga mendekatinya melalui percakapan yang terdengar aneh tetapi menghibur.

Cara tersebut akhirnya menjadi salah satu kekuatan Dilan 1990. Hubungan keduanya tidak langsung berubah menjadi kisah cinta. Film memberikan ruang cukup panjang untuk memperlihatkan rasa penasaran Milea terhadap seorang Dilan yang sulit ditebak.

Dilan Bukan Sekadar Remaja yang Pandai Merayu

Popularitas Dilan sering dikaitkan dengan kalimat romantisnya. Padahal karakter ini dibangun dengan beberapa sisi yang saling bertentangan. Ia dapat bersikap santai ketika bersama Milea, tetapi mempunyai kehidupan lain yang membuat Milea khawatir.

Di sekolah, Dilan bukan siswa biasa. Ia memiliki hubungan dengan kelompok sepeda motor dan tidak selalu menghindari perkelahian. Sikapnya dapat berubah ketika menghadapi persoalan yang melibatkan teman atau harga dirinya.

Pada bagian lain, Dilan diperlihatkan memiliki kemampuan akademis yang cukup baik. Ia juga dapat berbicara dengan orang dewasa tanpa kehilangan gaya khasnya. Kombinasi tersebut membuat karakter Dilan tidak hanya bergantung pada citra seorang remaja nakal.

Iqbaal Ramadhan melakukan persiapan khusus sebelum memainkan karakter tersebut. Ia beberapa kali bertemu dengan sosok yang menjadi rujukan karakter Dilan dan mengamati cara berbicara, duduk, berjalan, hingga bersikap. ANTARA juga mencatat bahwa Iqbaal berdiskusi dengan anggota kelompok sepeda motor untuk memahami lingkungan yang mengelilingi Dilan.

Keberhasilan karakter Dilan menurut penulis terletak pada perpaduan sifat nakal, percaya diri, jenaka, dan lembut yang tidak ditampilkan secara berlebihan dalam satu waktu.

Milea Menjadi Pusat Cerita yang Tidak Kalah Penting

Walaupun nama Dilan berada di judul film, Milea mempunyai posisi yang sangat penting. Penonton pada dasarnya mengikuti perjalanan hubungan tersebut melalui pengalaman Milea. Kehadiran Dilan menjadi sesuatu yang perlahan mengubah kesehariannya di sekolah.

Saat pertama datang ke Bandung, Milea sebenarnya sudah memiliki kekasih bernama Beni yang berada di Jakarta. Kondisi tersebut membuat pendekatan Dilan tidak langsung diterima. Milea beberapa kali menjaga jarak dan berusaha memahami apa yang sebenarnya diinginkan Dilan.

Perlahan, perbedaan antara Beni dan Dilan semakin terlihat. Dilan menunjukkan perhatian melalui hal kecil yang sering terasa tidak masuk akal. Salah satu caranya adalah memberikan hadiah yang berbeda dari hadiah ulang tahun pada umumnya.

Bagi Milea, kejutan kecil seperti inilah yang membuat Dilan sulit diabaikan. Perasaan tersebut kemudian berkembang ketika ia mengenal keluarga, teman, serta sisi lain kehidupan Dilan.

Dilan juga bukan satu satunya laki laki yang berada di sekitar Milea. Ada Nandan, Kang Adi, dan beberapa tokoh lain yang membuat hubungan keduanya tidak berjalan tanpa gangguan.

Bandung 1990 Hadir Lewat Detail yang Dekat dengan Kehidupan Remaja

Pemilihan tahun 1990 bukan sekadar penanda waktu. Film berusaha menghidupkan kembali suasana ketika komunikasi remaja sangat berbeda dengan sekarang. Telepon rumah, surat tulisan tangan, angkutan kota, sepeda motor lama, serta kebiasaan bertemu langsung menjadi bagian penting dari kehidupan Dilan dan Milea.

ANTARA mencatat beberapa benda khas periode tersebut sengaja dimunculkan, termasuk Honda CB100 milik Dilan dan bacaan populer yang terlihat di sejumlah adegan. Unsur semacam ini membantu memberikan identitas visual yang mudah dikenali.

Ketika ingin menghubungi Milea, Dilan tidak dapat langsung mengirim pesan singkat melalui telepon seluler. Ada proses menunggu yang membuat sebuah percakapan terasa lebih panjang. Surat atau telepon rumah menjadi alat komunikasi penting.

Bandung juga memiliki posisi khusus. Jalan, lingkungan sekolah, rumah, angkutan kota, hingga udara kota yang digambarkan dalam film membantu membentuk karakter ceritanya.

IMDb mencatat proses pengambilan gambar berlangsung di Bandung dan Jakarta, dengan periode produksi dari Juli sampai November 2017.

Pemilihan Iqbaal Ramadhan Sempat Memunculkan Perdebatan

Sebelum film tayang, pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai Dilan sempat memunculkan perbedaan pendapat di antara pembaca novel. Sebagian penggemar merasa citra Iqbaal yang sebelumnya dikenal sebagai anggota CJR tidak sesuai dengan gambaran Dilan dalam buku.

Tekanan tersebut cukup besar karena novel Dilan sudah memiliki pembaca dengan bayangan masing masing mengenai bentuk fisik, gaya bicara, dan perilaku tokoh utamanya.

Proses pencarian pemeran Dilan bahkan tidak berlangsung singkat. Fajar Bustomi pernah menjelaskan bahwa diperlukan waktu sekitar satu tahun hingga akhirnya Iqbaal dipilih memainkan tokoh tersebut.

Iqbaal kemudian mencoba menjawab keraguan tersebut melalui persiapan karakter. Ia tidak hanya membaca skenario, tetapi juga mempelajari orang yang menjadi rujukan Dilan. Cara duduk, berjalan, berbicara, serta menulis menjadi bagian dari proses tersebut.

Setelah film tayang, respons terhadap penampilannya berubah cukup besar. Chemistry Iqbaal dan Vanesha justru menjadi salah satu bagian yang banyak dibicarakan penonton.

Vanesha Prescilla Memulai Debut Besar sebagai Milea

Dilan 1990 juga menjadi langkah penting bagi Vanesha Prescilla. Milea merupakan salah satu peran layar lebar pertamanya dan langsung menempatkannya sebagai pemeran utama dalam film dengan jumlah penonton sangat besar.

Vanesha memainkan Milea dengan pendekatan yang relatif tenang. Ekspresi wajah sering digunakan untuk memperlihatkan perubahan perasaan ketika menghadapi tingkah Dilan.

Karakter Milea memang memerlukan cara bermain seperti itu. Ia bukan tokoh yang selalu mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Banyak perubahan justru terlihat dari cara ia mulai menunggu telepon Dilan, memperhatikan kehadirannya di sekolah, atau menunjukkan kecemasan ketika Dilan terlibat masalah.

Versi Milea dewasa juga dihadirkan melalui Sissy Priscillia. Kehadiran tersebut menghubungkan kenangan Milea dengan peristiwa yang berlangsung ketika ia masih menjadi pelajar. ANTARA menyebut Vanesha mampu tampil meyakinkan dalam debutnya sebagai Milea.

Hari Pertama Langsung Menarik 225 Ribu Penonton

Besarnya perhatian terhadap Dilan 1990 terlihat begitu film resmi diputar pada 25 Januari 2018. Pada hari pertama saja, sekitar 225 ribu tiket terjual. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan produser Ody Mulya Hidayat yang sebelumnya memperkirakan jumlah penonton hari pertama berada di atas 100 ribu orang.

Pada hari pembukaan, film memperoleh sekitar 389 layar di bioskop Indonesia. Sambutan yang tinggi membuat jumlah layar kemudian berpeluang ditambah.

Pertumbuhan penontonnya juga tidak berhenti setelah akhir pekan pertama. Kompas mencatat Dilan 1990 memperoleh sekitar 1,2 juta penonton dalam pekan pembukaan dan akhirnya mencapai 6.315.664 penonton selama masa pemutarannya.

Falcon Pictures juga mencatat jumlah penonton Dilan 1990 berada di atas 6,3 juta. Pada masanya, pencapaian tersebut menempatkannya sebagai salah satu film Indonesia dengan jumlah penonton bioskop terbesar.

Menurut penulis, capaian lebih dari enam juta penonton menunjukkan bahwa kekuatan Dilan 1990 bukan hanya berasal dari pembaca novelnya, tetapi juga dari kemampuannya menjangkau penonton yang sebelumnya tidak mengikuti buku karya Pidi Baiq.

Kalimat Dilan Menjadi Bagian yang Paling Mudah Diingat

Salah satu ciri Dilan adalah caranya berbicara kepada Milea. Ia tidak menggunakan pendekatan romantis yang terlalu formal. Kalimatnya sering sederhana, aneh, dan disampaikan dengan wajah serius.

Dilan dapat mengubah percakapan biasa menjadi sesuatu yang membuat Milea tertawa atau kebingungan. Hadiah ulang tahun pun dibuat berbeda. Alih alih memberikan benda mahal, ia memilih sesuatu yang sederhana tetapi telah disiapkan dengan caranya sendiri.

Gaya komunikasi seperti inilah yang kemudian banyak diingat penonton. Sejumlah ungkapan Dilan menyebar luas di media sosial setelah film dirilis, bahkan sering diparodikan dalam berbagai percakapan.

Hal menariknya adalah kelucuan tersebut tidak berdiri sendiri. Cara Dilan berbicara juga menunjukkan bagaimana ia mencoba membangun kedekatan dengan Milea tanpa mengikuti gaya laki laki lain di sekitarnya.

Film akhirnya memiliki banyak adegan yang mudah dikenali hanya dari percakapan dua tokoh utamanya.

Persahabatan dan Kehidupan Sekolah Membuat Cerita Terasa Lebih Penuh

Hubungan Dilan dan Milea memang menjadi pusat perhatian, tetapi kehidupan sekolah mereka tidak hanya berisi percintaan. Sejumlah tokoh pendukung memberikan warna yang membuat dunia dalam film terasa lebih ramai.

Ada Nandan, Piyan, Wati, Rani, Anhar, Akew, serta teman teman lain yang berada di lingkungan sekolah. Beberapa menjadi sahabat Dilan, sedangkan lainnya terlibat dalam persoalan yang akhirnya memengaruhi hubungannya dengan Milea.

Film juga menghadirkan keluarga kedua tokoh. Ira Wibowo memerankan ibu Dilan, sementara Happy Salma dan Farhan hadir sebagai orang tua Milea. Brandon Salim berperan sebagai Beni dan Refal Hady memainkan Kang Adi.

Kehadiran para tokoh tersebut membuat kehidupan Dilan tidak hanya terlihat ketika ia sedang mendekati Milea. Penonton dapat melihat bagaimana ia berinteraksi dengan teman, ibu, guru, serta orang lain yang mempunyai karakter berbeda.

Kesuksesan Dilan 1990 Melahirkan Kelanjutan Kisah Dilan dan Milea

Jumlah penonton yang sangat besar membuat perjalanan Dilan dan Milea berlanjut setelah film pertama. Dilan 1991 kemudian dirilis pada 2019 dan tetap mempertemukan Iqbaal Ramadhan dengan Vanesha Prescilla. Film tersebut memperoleh lebih dari 5,2 juta penonton bioskop.

Cerita berikutnya kemudian diteruskan melalui Milea: Suara dari Dilan. Film tersebut menggunakan sudut pandang berbeda untuk melihat hubungan Dilan dan Milea dan tercatat meraih lebih dari 3,1 juta penonton.

Keberhasilan tersebut membuat Dilan berkembang menjadi rangkaian film dengan pengenalan karakter yang sangat kuat di kalangan penonton Indonesia.

Dilan 1990 sendiri tetap menjadi titik awal yang paling penting. Di sinilah penonton pertama kali melihat Milea datang ke Bandung, Dilan mulai mendekatinya dengan berbagai cara, pertentangan dengan Beni muncul, dan hubungan mereka perlahan berubah dari sekadar perkenalan menjadi perasaan yang lebih dekat.

Keberadaan film lanjutan tidak menghilangkan posisi film pertama. Justru berbagai kisah berikutnya bergantung pada hubungan yang dibangun sejak pertemuan Dilan dan Milea pada 1990, ketika surat tulisan tangan, telepon rumah, perjalanan menggunakan angkot, lingkungan sekolah, serta sebuah sepeda motor menjadi bagian dari cerita cinta remaja yang akhirnya disaksikan jutaan penonton Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *